Arsitek VS Pemborong

arsitek vs pemborong
semoga kebahagiaan selalu menyertai anda dan keluarga. Dalam kesempatan ini saya akan coba menuliskan pengalaman pribadi saya, dimana terkadang klien mempunyai perspektif yang beraneka ragam tentang ruang kerja arsitek dengan pemborong atau kontraktor.

Batas ruang kerja antara pemborong dan arsitek sebenarnya mempunyai perbedaan yang cukup signifikan. Arsitek yang biasa juga disebut sebagai konsultan perencana mempunyai batasan kerja memberikan gambaran, detail perencanaan, dan anggaran kepada klien, yang kemudian akan dilaksanakan oleh pemborong / kontraktor.

Perencanaan meliputi gambaran tentang desain, detail, sepesifikasi, serta kisaran harga ( RAB ) yang dapat dipertanggungjawabkan baik secara desain, structural. Itu semua adalah tanggung jawab arsitek sebagai konsultan perencana. Namun dilapangan semua menyesuaikan terhadap klien. Beberapa waktu yang lalu menemui seorang klien di Yogyakarta / jogja yang meminta detail material yang digunakan pada saat proses konstruksi nanti, karena beliau berencana ingin membangun sendiri rumahnya. Hal ini tidak termasuk dalam jasa arsitek, karena arsitek hanyalah member gambaran yang akan dilaksanakan oleh pemborong / kontraktor. Walaupun sebenarnya arsitek mampu memberikan rincian penggunaan material pada waktu proses konstruksi ini.
Batasan kerja pemborong adalah melaksanakan apa yang sudah direncanakan arsitek, semua ketentuan teknis sudah tertera pada gambar kerja. Pemborong / kontraktor bertanggung jawab penuh kepada klien agar apa yang sudah direncanakan oleh arsitek dilaksanakan sesuai dengan apa yang tertera. Untuk harga, tergantung pada kesepakatan antara pemborong dengan klien.
Namun kenyataan dilapangan sekarang beraneka ragam. Ada arsitek yang sekaligus melayani jasa konstruksi. Adapula pemborong yang juga melayani jasa desain. Semua tergantung pada klien, karena apa yang akan mereka bangun adalah asset berharga dan mempunyai nilai nominal besar. Kalau menurut pendapat saya pribadi, lebih baik menyerahkan sepenuhnya kepada arsitek. Beberapa alasanya adalah :
1. arsitek lebih tau apa yang mereka rencanakan karena mereka sendirilah yang mendesain.
2. arsitek akan lebih menghargai hasil karyanya sendiri walaupun kadang harus mengurangi profit karena apa yang akan mereka bangun akan sangat dibanggakan arsitek itu sendiri sebagai masterpiece karya seni mereka dan bukan semata mata mengacu pada profit.
3. Apabila terjadi perubahan desain, arsitek mampu memberikan gambaran bagaimana respon desain paling bagus apabila terjadi perubahan di tengah proses konstruksi nanti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s