About Architecture

Seperti halnya hidup, Arsitektur pun penuh dengan interpretasi, penuh dengan tujuan dan mimpi. Interpretasi, tujuan, dan mimpi itulah yang membentuk makna Arsitektur pada masing-masing individu. Dari begitu banyak literatur dan kata-kata dosen, hal utama dari Arsitektur adalah tentang perencanaan dan estetika. Namun, benarkah demikian?

Saya teringat kata-kata pak Bianpoen dalam sebuah acara bincang-bincang, bahwa tidak ada artinya Pembangunan jika ia mengorbankan dan meninggalkan sebagian (bahkan walaupun hanya sebagian kecil) masyarakat di belakangnya. Begitu pula dengan Arsitektur yang selalu seiring sejalan dengan “pembangunan” ini.

Saya sedih mendapati fakta bahwa saat ini Arsitektur begitu dipersempit maknanya menjadi sebuah transaksi bisnis semata. Saya sedih membaca berbagai forum arsitek yang isinya melulu memperdebatkan masalah fee arsitek yang dianggap terlalu rendah. Setiap orang butuh uang untuk hidup di jaman seperti ini? Memang benar. Tapi tidak berarti yang menjadi perhatian kita adalah melulu perkara fee belaka, perkara proyek menguntungkan belaka. Jika demikian, bukankah makna sejati dari Arsitektur dan Pembangunan menjadi hilang? Kesedihan ini adalah kesedihan yang sama persis yang pernah saya alami ketika mengetahui latar belakang beberapa kawan saya yang ingin menjadi seorang dokter supaya secara finansial menjadi kaya raya.

Mungkin sudah tidak aneh lagi melihat hal-hal semacam ini di sekitar kita, tapi saya tetap bertanya-tanya, mengapa setiap hubungan antar manusia, setiap karya, setiap perbuatan baik, setiap apapun yang kita lakukan harus selalu ditakar dengan ukuran uang dan kekayaan? Saya hanya ingin tahu, mengapa?

Kembali ke Arsitektur.

Jika interpretasi saya mengenai Arsitektur adalah creating space for people. Sebuah ruang yang baik secara fungsi, baik secara estetika, baik pula untuk psikologis dan kenyamanan manusia. Lalu pertanyaan berikutnya adalah, manusia yang mana? Tentu saja jawabannya adalah untuk SEMUA MANUSIA. Ya, sama seperti pesan Bianpoen, Arsitektur pun seharusnya tidak mengorbankan dan meninggalkan seorang manusia pun di belakangnya.

Tidak usah yang jauh-jauh, mulai saja dengan orang-orang yang ada di sekitar kita. Apa orang-orang di sekitar kita telah memiliki tempat yang layak untuk beraktivitas? Apa rumah mereka adalah rumah yang baik bagi kesehatan mereka? Apa ruangannya nyaman untuk dihuni? Apa anak-anak kecilnya punya tempat untuk bermain? Jika belum, maka mulailah untuk creating space bagi orang-orang di sekitar kita. Persetan dengan fee atau bayaran, aplikasikan ilmu kita untuk orang-orang di sekitar kita. Karena itulah gunanya ilmu, untuk diaplikasikan di dalam kehidupan, bukan untuk ditransaksikan atau dijual!

Creating space yang saya maksud di atas bukan berarti kita harus punya uang milyaran untuk membeli sebidang tanah dan membagi-bagikannya kepada orang-orang di sekitar kita. Bukan. Karena tentu saja sangat susah kalau harus menunggu kita punya uang milyaran atau sebidang tanah yang luas. Lagi-lagi ini berhubungan dengan ilmu yang telah kita pelajari.

Kalau ada teman kantor yang ingin merenovasi rumah, segera tawarkan diri kita untuk mendesainkan rumah mereka, secara gratis tentunya. Buat rumah mereka menjadi sehat, nyaman, dan indah. Jika di jalan melihat rumah yang sangat kronis kondisinya, datangi, ketuk pintunya, sampaikan niat baik kita, kalau perlu bantu cari biaya dan material untuk perbaiki kondisi rumah tersebut. Jika kita punya rumah/lahan, berikan sebagian ruangan/sebagian lahan agar bisa diakses dan dimanfaatkan oleh publik, bisa berupa ruangan untuk bermain, ruangan untuk belajar, dan sebagainya. Karena kita semua pun tahu bahwa dewasa ini ruang-ruang publik (selain mall, tentu saja) sangat sulit ditemui. Lebih ekstrim, seperti yang dilakukan oleh Romo Mangun, tinggalah di sebuah perkampungan, pelajari budaya dan kebiasaan mereka, lalu bersama-sama dengan masyarakat bangunlah perkampungan tersebut menjadi lebih baik lagi, sesuai dengan budaya dan kebutuhan mereka.

Banyak yang bisa dilakukan! Sebarkan manfaat Arsitektur kepada masyarakat, lupakan fee dan transaksi-transaksi bisnis lainnya. Jangan penjarakan pikiran dan ilmu kita dengan label harga, lantas begitu saja melupakan esensi sejati dari Arsitektur.

Mari berkarya!

SUKSES,MUDA DAN BERKARYA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s